Millenial Minimalis

              Terapkan semua dasar-dasar pemikiran ini dalam sebuah hidup minimalis

Buku berjudul 'Seni Hidup Minimalis' karya Francine Jay merupakan salah satu buku yang menjadi petunjuk tentang bagaimana caranya menjalani kehidupan yang serba minimalis, tidak terlalu berlebihan supaya hidup lebih tertata dan sederhana. Dalam buku ini memiliki banyak sekali pemikiran yang filosofis mengenai tentang bagaimana cara kita mengenal akan kebutuhan barang, menggunakan suatu barang maupun dan efek dari hal-hal yang akan kita lakukan terhadap kebutuhan barang tersebut.

Seni Hidup Minimalis sendiri hadir untuk mengatasi keinginan dan hasrat atas kepemilikan barang-barang yang semakin tidak terbendung di era millennial sekarang ini karena pengaruh dari media internet. Nah, untuk kita yang tertarik dengan konsep hidup gaya minimalis maka kita dapat menerapkan dasar-dasar pemikiran ide dari buku ini untuk memulainya.

1. Mengenali kegunaan dari setiap barang

Millenial Minimalis

Barang-barang tersebut perlu dikelompokkan, dimaknai dan diketahui fungsi dan kegunaannya masing-masing. Dan juga untuk selalu memperhatikan bagaimana barang-barang tersebut bertambah. Barang fungsional tersebut bersifat praktis, mempunyai kegunaan dan membantu dalam kehidupan kita sehari-hari. Terdapat barang yang digunakan untuk kelangsungan hidup serta ada juga yang untuk memudahkan urusan hidup. Kita harus memilih barang mana yang benar-benar kita gunakan dan bernilai lebih untuk kehidupan kita. Namun, faktor yang terpenting adalah apabila bernilai maka barang itu harus digunakan.

Untuk selanjutnya, barang dekoratif yang kita ingin pajang untuk benar-benar kita nikmati. Barang ini memuaskan hasrat kita dalam bentuk lain. Kemudian tipe barang-barang emosional yang kita simpan karena barang tersebut memiliki keterikatan emosional dengan kita.Namun, sama persis seperti barang dekoratif, kita harus meletakkannya di tempat dimana kita dapat menikmatinya bukan untuk menyimpannya di tempat yang tersembunyi. Untuk sekedar pengingat, jangan menyimpan suatu barang dari karena merasa itu suatu kewajiban.

2. Kita bukan tentang barang kita

Millenial Minimalis

Kita pasti sering mendengarkan di telinga bahwa barang yang kita miliki mencerminkan diri kita sebenarnya.Itulah yang seringkali biasanya digambarkan oleh sebuah media promosi iklan. Sebenarnya terdapat kategori barang keempat yaitu bernama barang yang aspiratif. Kita akan memiliki kategori barang demikian hanya untuk membujuk orang lain menjadi seolah olah terkesan atau untuk mewujudkan versi diri sebenarnya didalam bayangan diri kita. Para pihak produsen biasanya akan membuat seolah-olah barang tersebut benar-benar menggambarkan diri kita yang sebenarnya. Ya,hal tersebut tidak bisa dipungkiri adalah teknik marketing yang sempurna karena kita mudah sekali untuk dipengaruhi.

Poin demikian menjelaskan bahwa tidak simple dan mudah menjadi orang yang berpikiran minimalis di dunia media massa pada saat ini.Media Iklan-iklan promosi begitu menyakinkan bahwa barang yang bermerk dengan harga mahal lebih nyaman dan unggul ketika pas digunakan. Padahal merk tidak menentukan kenyamanan dari sis pengguna.

Kita biasanya sulit untuk melepaskan suatu barang karena ingin membuktikan sebuah prestasi atau siapa kita sebenarnya. Namun,karena hal demikian justru kita menempatkannya pada suatu kotak ataupun tempat yang tidak terlihat oleh mata dan memakan ruang tentunya. Apabila kita cemas dan khawatir disaat ingin menyingkirkan keberadaan barang-barang tersebut, maka kita harus mengingat bahwa kenangan, mimpi dan cita-cita tidak sebatas pada konteks barang saja, melainkan diri kita sendiri.

3. Sedikit barang yang serupa dengan sedikit tingkat stress

Millenial Minimalis

Kita memerlukan banyak energi dan waktu untuk mengurusi setiap barang yang kita miliki dan itu berhubungan dengan tingkat stress kita. Belum lagi proses yang kita butuhkan untuk mendapatkan barang-barang tersebut. Dengan banyak total waktu, budget dan energi yang kita habiskan, kita mungkin mulai berpikir ulang bahwa barang-barang itulah yang ternyata memiliki kita, bukan malah sebaliknya.

Kita berusaha sangat keras untuk memiliki suatu barang yang belum kita miliki. Setelah memilikinya kita akan merasa lega untuk sementara waktu, namun kemudian kembali stress karena barang yang kita beli (ambil) bukan untuk kita gunakan namun sebagai pembuktian saja tidak lebih.Dan akhirnya barang tersebut berakhir di bagian sudut ruangan dan membiarkannya dalam posisi berdebu.

Hidup minimalis bukan berarti kita hidup dengan barang yang sangat terbatas kuantitasnya. Namun, seni hidup milimalis pada hakekatnya kita hidup dengan barang yang memiliki nilai ataupun value add bagi kehidupan kita sejatinya.

4. Sedikit barang sama dengan lebih bebas

Millenial Minimalis

Percaya atau tidak, barang kita memiliki kekuatan untuk menahan keinginan kita. Barang dapat menahan kita untuk menemukan suatu hal yang baru ataupun minat baru. Barang yang kita miliki dapat menghalangi hubungan pencapaian karir, dan waktu bersama keluarga, menghabiskan energi dan semangat kita. Contohnya, saja kita tidak datang ke sebuah pertemuan dikarenakan harus bekerja untuk membayar sebuah cicilan suatu barang ataupun melewatkan waktu berlibur karena harus menjaga sebuah barang yang berharga tidak dapat dibawah kemana-mana.

Pernahkah kita sekedar hanya memperhatikan isi dalam ruangan yang hanya diisi oleh barang-barang yang tidak begitu kita perlukan. Dan untuk menyesaikan masalah tersebut kita menyimpan barang-barang itu kedalam sebuah keranjang kecil ataupun laci. Sayangnya hal demikian tidak benar-benar menyelesaikan masalah secara penuh karena barang-barang itu tetap berada didalam pikiran kita. Sehingga, supaya kita tidak memikirkannya maka kita harus menyingkirkan barang-barang tersebut.

5. Lepaskan ketertarikan dengan suatu barang

Millenial Minimalis

Dalam konsep pemikiran tertentu mengatakan bahwa kita harus benar-benar terlepas dari ikatan-ikatan berbau duniawi. Namun, tentu saja kita tidak perlu melakukan sebuah hal yang terlalu jauh seperti demikian dalam konsep minimalisme. Melepaskan sebuah ikatan dengan sebuah barang akan membuat kita memahami lebih arti dari sebuah keikhlasan pada saat kehilangan barang tersebut.

Ketika kita pergi berkemah, kita hanya membawa sedikit barang-barang yang kita butuhkan untuk bertahan hidup pada saat itu juga. Namun,ketika kita kembali, mengapa banyak sekali barang yang akan dibutuhkan? Sebenarnya hal demikian yang harus kita perhatikan, bahwa sebagian besar barang-barang yang berkaitan dengan kita tidak menjamin arti dari sebuah kesehatan dan kebahagiaan untuk kita.

6. Menjadi penjaga pintu yang baik dan benar

Millenial Minimalis

Kalimat diatas telah diungkapkan oleh seorang penulis yang berasal dari negara Inggris, William Morris. Ini merupakan dasar dari sebuah perspektif 'jadilah seorang penjaga pintu yang baik dan benar'. Barang yang kita miliki masuk kedalam rumah ataupun sebuah ruangan hanya karena dibeli ataupun bisa dihadiahkan. Barang tersebut tidak akan menyelinap masuk begitu saja. Kita harus mengevaluasi setiap barang untuk mencari tahu tentang bagaimana barang tersebut ada.

Kita perlu berhenti sejenak dan bertanya tentang 'kenapa' sebelum membeli sebuah barang yang diinginkan. Apakah nilai dan manfaat dari barang tersebut untuk kita? Apakah keneradaan barang tersebut akan mempermudah hidup kita ataukah justru malah menjadi merepotkan? Apakah masih terdapat ruang untuk barang tersebut? Dan bagaimana cara untuk menyingkirkan barang tersebut apabila sudah tidak digunakan lagi ? Kita harus mempunyai kemampuan untuk menolak keberadaan barang yang sebenarnya tidak begitu kita butuhkan dan hanya akan menerima barang yang benar-benar kita butuhkan.

7. Menikmati sebuah ruang

Millenial Minimalis

Kita membutuhkan ruang untuk mengapresiasi nilai-nilai keindahan. Karena tanpa ruang kita hanya akan mendapatkan kebisingan dan kesemrawutan suasana yang dapat memadamkan potensi kreativitas yang kita miliki. Semakin banyak ruang maka kita akan semakin menikmati nilai dalam hidup. Kita menikmati sebuah ruang yang kosong disaat rumah kita belum memiliki sebuah barang dan sekarang malah terjadi sebaliknya. Kekurangan akan ruang untuk bergerak dapat membuat siatuasi menjadi frustasi. Setiap kali kita memasukkan sebuah barang ke dalam rumah masing-masing, kita secara tidak sadar sudah kehilangan space ruangan secara perlahan.

Namun, tidak perlu khawatir karena ruang yang hilang dapat dengan mudah kita dapatkan kembali. Coba saja untuk menyingkirkan barang yang tidak bermanfaat dan  ruangan itu akan kembali kosong. Kita harus menyisakan sebuah ruang hanya untuk berang-barang yang dapat membantu hidup kita. Ingat tentang nilai ruang sama dengan nilai sebuah barang (namun dapat menjadi lebih besar, tergantung cara kita melihatnya).

8. Menyukai tanpa memiliki

Millenial Minimalis

Tentu saja hal demikian cukup sulit untuk dilakukan karena kita selalu memiliki keinginan secara lebih untuk memiliki sebuah barang. Namun pada kenyataannya, menerapkan konsep hidup minimalis itu berarti kita harus melawan keinginan untuk menghadirkan sebuah tiruan barang dari sisi luar di dalam rumah kita. Kita tidak perlu membeli sebuah lukisan yang bernilai mahal, tidak perlu untuk membeli mesin pembuat kopi ataupun perlengkapan gym. Kita masih dapat menikmati barang-barang tersebut tanpa harus untuk memilikinya.

Apabila kita mudah untuk tergoda oleh keberadaan barang-barang yang tidak begitu kita butuhkan maka terapkan sebuah motto 'menyukai tanpa memiliki'.Seni hidup minimalis berarti kita perlu untuk mengurangi jumlah kuantitas barang yang membutuhkan perawatan dan perhatian khusus.

9. Bahagia dengan hal yang secukupnya

Millenial Minimalis

Tidak semua orang akan menerima secara penuh akan adanya konsep 'cukup'. Karena cukup bagi kita belum tentu akan cukup untuk standarisasi orang lain. Cukup berarti sudah dapat memenuhi akan kebutuhan ataupun memuaskan keinginan, tidak kurang. Namun, kita sadar bahwa masih terdapat keinginan lainnya. Untuk menikmati sebuah rasa cukup berarti kita harus terfoks pada suatu kebutuhan. Kita harus berhenti melihat arti dari sebuah kata cukup dari sudut pandang orang lain dikarenakan itu termasuk keinginan.

Dan faktanya adalah begitu semua kebutuhan dasar sudah terpenuhi maka kebahagiaan kita tidak lagi ditentukan oleh jumlah barang yang kita miliki. Menumbuhkan sikap penuh rasa syukur akan nikmat sangat berguna dalam pola seni hidup minimalis. Apabila kita dapat melihat bahwa hidup kita tidak kekurangan dan dapat menghargai apa yang sudah kita milik maka kita tidak akan menginginkan hal-hal lain lagi. Kita cukup berfokus pada apa yang sudah kita miliki, bukan tentang apa yang belum kita miliki.

10. Pola Hidup yang Sederhana

Millenial Minimalis

Mahatma Gandhi pernah mengatakan bahwa "Hiduplah dengan pola yang sederhana supaya orang lain dapat hidup". Ini merupakan salah satu tujuan yang terpenting dalam konsep seni hidup minimalis. Inti perkataan dari Mahatma Gandhi ini adalah bahwa kita tidak boleh mengeksploitasi sumber daya yang lebih daripada yang kita butuhkan. Hal demikian karena dari setiap 'tambahan' kebutuhan yang kita gunakan, kita harus mengorbankan kebutuhan orang lain, baik pada saat ini maupun generasi yang akan mendatang.

Hal pada diri kita yang tidak disadari bahwa kita hidup dengan saling terhubung satu sama lainnya. Setiap tindakan bahkan hal terkecil sekalipun akan berdampak untuk orang lain. Pilihan kita sebagai seorang konsumen juga akan berdampak langsung bagi lingkungan sekitar kita. Pola Hidup sederhana, dengan menggunakan barang sesuai esensinya saja dan menerapkan konsep seni hidup minimalis merupakan salah satu cara kita untuk berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Sekian dari pemaparan diatas dan itulah sepuluh konsep dasar pemikiran tentang buku 'Seni Hidup Minimalis' yang menjadi fondasi awal untuk kita yang berkeinginan memulai menerapkan konsep hidup minimalis di dalam hidup kita masing-masing. Apabila kita ingin mengetahui lebih lanjut secara mendalam tentang sepuluh konsep ini, maka penulis menyarankan untuk membaca versi bukunya.


0 komentar:

Post a Comment

Translate

RSS Feed

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Dark Mode

Popular Posts